• West Java Kingdom


    Kerajaan di Barat Jawa
    Penelusuran Sejarah antara Legenda dan Fakta

  • West Java Kingdom

    Search of the History between Legend and Fact

  • West Java Kingdom

    Seni, Tradisi, Budaya, dan Wisata Sejarah

Posted by Unknown
1 comment | 12:35 AM
WEST JAVA KINGDOM
Ada sedikit bukti otentik yang tak terbantahkan mengenai kebesaran seorang tokoh yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Beliau membawa negerinya pada kemakmuran dan dicintai oleh rakyatnya. Sri Baduga Maharaja adalah gelar saat penobatan, sedangkan nama asli beliau yaitu Jayadewata dengan julukan Sang Pamanah Rasa.
Tidak kita jumpai satupun peninggalan sejarah yang benar-benar otentik yang menyebutkan bahwa tokoh tersebut menamai dirinya atau menyebut dirinya sebagai Prabu Siliwangi. Gelar yang melegenda tersebut hanya berkembang di masyarakat untuk menyebut jati diri sang raja. Hal itu bisa kita jumpai dalam karya-karya sastra dan beberapa cerita lisan yang berkembang turun temurun. Masyarakat Sunda saat itu mengenal istilah “pamali” atau tabu, mereka merasa tidak sampai hati menyebut nama langsung dari tokoh yang sangat mereka hormati. Akhirnya nama Prabu Siliwangi menjadi pilihan terbaik untuk menyebut identitas sang raja.

Siapakah Prabu Siliwangi?
Siliwangi berasal dari kata “Silih” yang berarti menggantikan dan “Wangi” yang merujuk kepada tokoh Prabu Wangi.  Jadi Siliwangi adalah yang menggantikan Prabu Wangi. Prabu Wangi adalah Maharaja Niskala Wastukancana, sehingga Siliwangi merupakan penerus dari raja tersebut.
Dari mulai Maharaja Niskala Wastukancana sampai keruntuhan kerajaan di tahun 1579, Kerajaan Sunda (yang di situs ini kemudian diteruskan dengan nama Kerajaan Pajajaran) terdapat 7 nama raja yang pernah berkuasa. Jadi sampai disini, ada 7 nama yang bisa jadi merupakan Prabu Siliwangi yang disebut dalam kisah-kisah.
Pengganti langsung dari Niskala Wastukancana adalah Dewa Niskala, namun dari beberapa kisah yang kami temui mengenai Prabu Siliwangi, biografi Dewa Niskala sama sekali berbeda dengan kisah-kisah tokoh Prabu Siliwangi. Yang sangat-sangat mendekati karakter Prabu Siliwangi justru Jayadewata yang merupakan penerus dari Dewa Niskala. Sehingga beberapa peneliti sejarah mengungkapkan bahwa istilah “pengganti” ini bukan “pengganti” dalam arti penerus langsung, tapi “pengganti” dalam artian memiliki ciri yang sama dengan objek yang digantikan. Seperti yang kita tahu bahwa Niskala Wastukancana dan Jayadewata adalah 2 tokoh yang membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan dan dicintai rakyat Sunda.
Namun, di beberapa kisah pantun serta cerita lisan yang ada, raja-raja lain setelah Jayadewata pun memiliki karakter dan cerita yang sama dengan Prabu Siliwangi (meskipun secara kuantitas, kisahnya jauh lebih sedikit dibandingkan kemiripan kisah Prabu Siliwangi dengan Jayadewata).
Dari paparan diatas kami mengidentifikasikan bahwa ada 4 kemungkinan yang berkembang di masyarakat dalam kasus ini, yaitu:
  1. Tokoh Prabu Siliwangi hanyalah tokoh fiktif (asumsi ini sangat lemah, karena ada beberapa sumber historis meskipun sedikit tapi sudah cukup kuat membuktikan bahwa tokoh ini memang ditujukan kepada tokoh yang benar-benar pernah ada).
  2. Tokoh Prabu Siliwangi memang khusus ditujukan untuk tokoh Prabu Jayadewata.
  3. Tokoh Prabu Siliwangi ditujukan untuk raja-raja yang dimulai dari Prabu Jayadewata sampai yang terakhir (dalam hal ini, ada 6 orang raja yang digelari sebagai Prabu Siliwangi).
  4. Ada pencampuran kisah antara Prabu Jayadewata dan raja-raja sesudahnya menjadi satu tokoh yaitu Prabu Siliwangi. 
Kemungkinan terakhir itulah yang sebenarnya banyak berkembang di masyarakat kita sekarang ini. Maksud dari pencampuran kisah tadi, bisa karena keperluan karya sastra (yang ini masih bisa kami tolerir) dan bisa juga dikarenakan mereka yang mencampur adukan sejarah tadi, memang tidak mengetahui sepenuhnya mengenai Sejarah Kerajaan Sunda/Pajajaran.

Pembengkokan Fakta Prabu Siliwangi
Merupakan suatu fitrah, ketika manusia memerlukan suatu tokoh yang dijadikan panutan. Apalagi hampir beberapa dekade ini kita seolah tidak menemukan sosok yang pantas dijadikan tuntunan atau diidolakan (diluar konteks keagamaan). Maka ketika kita menemukan suatu cerita, sekalipun cerita itu tidak jelas asal usulnya,mengenai seorang tokoh besar nan hebat (apalagi tokoh tersebut berasal dari suku kita sendiri), kita langsung menelan bulat-bulat kisah tadi. Begitu pun dengan kisah-kisah mengenai Prabu Siliwangi, sebagian dari kita seolah-olah menemukan sosok idola. Bahkan menjadi pengkultusan yang mungkin terlalu berlebihan.
Minimnya sumber dan peninggalan sejarah mengenai tokoh tersebut kerap kali menjadi objek sasaran para pegiat klenik. Mereka mendompleng kebesaran dan kehebatan tokoh Prabu Siliwangi untuk kepentingan mereka.
Atau sering juga kita saksikan di layar kaca mengenai tayangan reality show yang menampilkan orang-orang yang katanya kerasukan. Lucunya, orang yang “kerasukan” tadi menyebut dirinya sebagai Prabu Siliwangi. Lelucon macam apa ini? Silahkan telaah lagi paparan kami diatas, bahwa tidak ada satupun raja Sunda/Pajajaran yang menyebut dirinya sebagai Prabu Siliwangi. Dari satu kalimat itu saja sudah cukup menilai bahwa orang “kerasukan” tadi adalah orang yang sama sekali tidak mengenal  realita sejarah. Atau jika memang benar ada jin yang merasuki ke diri orang tersebut, maka kami simpulkan bahwa jin tersebut tidak cukup pintar untuk mengelabui kami. Jangan tertipu!
Kisah-kisah lain yang lumayan sudah mendarah daging adalah kisah mengenai menghilangnya Prabu Siliwangi, memindahkan kerajaan ke dimensi lain, pertikaian dengan sang anak (Kian Santang) yang berbuntut dengan Prabu Siliwangi dikejar-kejar oleh anaknya itu, dan masih banyak rumor lain yang berkembang, yang seharusnya kita sebagai manusia yang dianugerahi nalar perlu menelaah terlebih dahulu kisah-kisah tadi, sebelum kita menganggap bahwa kisah-kisah tersebut adalah fakta sejarah.
Kisah penting lainnya mengenai Prabu Siliwangi adalah cerita yang mulai tersiar luas bahwa Prabu Siliwangi sebenarnya memeluk agama Islam. Secara bukti historis (yang otentik) kami pastikan tidak ada mengenai hal itu. Maaf, ini bukan perkara sentimen agama. Kami muslim, kami mencintai dan menghormati Prabu Siliwangi, tapi untuk kisah-kisah yang dipaksakan jelas-jelas kami tolak. Tanpa kisah itu, Islam sudah cukup besar dengan segala kebesarannya, Prabu Siliwangi sudah cukup hebat dengan segala sepak terjangnya. bagi kami itu sudah cukup, tidak perlu ada penggabungan kisah yang kesannya dipaksakan.
Mengenai Prabu Siliwangi beragama Islam, bukan berarti kami menutup mata dan telinga, namun sejauh ini kami tidak berpegang pada pemikiran saudara kita yang memiliki keyakinan seperti itu, hanya saja memang kami belum menemukan sumber otentik. Silahkan beri kami data yang lebih valid, tidak menutup kemungkinan suatu saat kami mengamini hal tersebut.
Akhir kata, Prabu Siliwangi adalah sosok  yang hebat, gambaran pemimpin yang ideal, patut kita hormati apalagi beliau termasuk salah satu leluhur kita. Namun perlu kita ingat, Prabu Siliwangi adalah manusia seperti kita juga, kadang berbuat salah, yang juga memiliki keterbatasan. Yang baik perlu kita tiru, yang salah dari beliau tidak perlu kita benarkan dengan cara mengarang-ngarang cerita agar beliau menjadi sosok yang sempurna. (WJK News)

Posted by Unknown
No comments | 11:26 PM
WEST JAVA KINGDOM
Sering kita jumpai, orang-orang yang berada di Jawa Barat dalam kesehariannya menggunakan bahasa Indonesia baik di lingkungan umum maupun rumah. Alasan mereka tidak menggunakan bahasa Sunda karena takut salah, sebenarnya mereka bisa menggunakan atau hanya mengerti bahasa Sunda, hanya kebanyakan dari mereka tidak mengetahui undak usuk (tingkatan) dalam berbahasa.
Atau apabila kita kebetulan mendengar percakapan dari suku Baduy, maka yang ada di benak kita adalah mereka menggunakan bahasa Sunda yang terdengar kasar, bahkan mungkin ada sebagian dari kita yang mengatakan bahwa suku Baduy tidak mengenal sopan santun (dari perspektif bahasa).
Bahasa Sunda yang kita kenal sekarang memang memiliki tingkatan bahasa, berbicara kepada orang-orang yang lebih tua atau yang kita hormati berbeda dengan bahasa yang kita ucapkan pada teman sebaya. Kini bahasa Sunda mengenal tingkatan seperti bahasa halus sekali, halus, sedang, kasar, dan kasar sekali.

Asal Muasal Tingkatan Bahasa Sunda

Yang akan kami bahas sekarang adalah asal muasal tingkatan dalam bahasa Sunda sehingga menjadi sebuah bahasa yang kita kenal sekarang. Tingkatan dalam bahasa Sunda baru, muncul sekitar abad ke-17-18 M. Sementara bahasa Sunda periode-periode sebelumnya, sama sekali tidak memiliki tingkatan bahasa. Baik itu raja, lingkungan keraton, sampai ke rakyat biasa, mereka menggunakan bahasa yang sama. Percakapan antara atasan-bawahan dan juga sebaliknya  tetap menggunakan bahasa yang sama tanpa ada istilah apakah itu sopan atau tidak sopan.

Sekalipun di zaman kerajaan-kerajaan barat Jawa mengenal penggolongan kasta, namun dalam urusan berbahasa mereka lebih demokratis, ada kesejajaran harkat derajat dalam urusan berbahasa.
Lalu apa yang melatar belakangi pergeseran bahasa atau lebih tepatnya terjadi revolusi dalam bahasa Sunda? Jawaban paling tepat dikarenakan adanya pengaruh dari budaya luar yang datang ke bumi Parahyangan. Itu terjadi ketika Pajajaran runtuh di abad ke 16 oleh serangan Kesultanan Banten.Sejak saat itu kekuasaan beralih kepada Banten dan Cirebon.

Seperti yang kita tahu, Banten dan Cirebon saat itu memiliki kedekatan dengan Mataram, bahkan pada perkembangan berikutnya (abad 17-18) justru Mataram yang lebih dominan memiliki peranan di Barat Jawa. Karena pengaruh Mataram dalam bidang politik di tanah Sunda itulah, kemudian bahasa Sunda pun menjadi terpengaruh oleh bahasa Jawa (bahasa resmi dari Mataram). Kecuali suku Baduy, mereka adalah suku “asli” Sunda yang mengasingkan diri setelah era Pajajaran tamat, mereka hingga kini setia menggunakan bahasa asli leluhur Sunda.

Di hampir sebagaian besar daerah di barat Jawa saat itu, Bahasa Jawa menjadi bahasa wajib/pengantar antara keraton Mataram (sebagai pusat) dengan pemimpin-pemimpin wilayah kekuasaanmereka di Barat Jawa. Karena itu, bahasa Jawa dianggap sebagai bahasa kaum bangsawanyang memiliki gengsi tersendiri. Tidak hanya digunakan oleh pemimpin daerah dan pusat, tapi juga harus dipelajari oleh lapisan bawah.

Perlu diketahui mengenai politik saat itu, derajat penguasa dan rakyat biasa, tidak sama seperti yang terjadi sekarang (pemimpin dan rakyat), tapi lebih cenderung seperti layaknya Penjajah dan yang dijajah. Penguasa masa lalu sangat memiliki kekuasaan yang absolut. Sehingga segala kebiasaan yang dilakukan penguasa (kebudayaan dari tempat penguasa berasal) harus diterapkan juga di masyarakat terbawah sebagai “masyarakat terjajah”. Bahkan terkadang justru “masyarakat terjajah” yang dengan rela hati mengikuti budaya penjajah.

Penguasa di wilayah jajahan, hampir dipastikan selalu memiliki karakter untuk mendominasi, serta harus menunjukkan bahwa ia memiliki derajat yang lebih tinggi dihadapan rakyat jelata. Bahasa yang memiliki peranan penting dalam menyampaikan sebuah pesan atau maksud dijadikan alat untuk mengukuhkan eksistensi mereka di wilayah kekuasaan.

Karakteristik bahasa Jawa yang sudah terlebih dahulu menggunakan tingkatan bahasa, membuat masyarakat Sunda ikut terbiasa dengan hal tersebut. Dari situ muncul “bahasa baru” yaitu bahasa Sunda yang tersekat-sekat. Bahasa Sunda lama pun kian hari kian pudar, yang ada sekarang tinggal bahasa warisan dari Mataram, yang kemudian “dilestarikan” oleh Pemerintah kolonial Belanda. Sementara bahasa Sunda lama, yang tersisa hanya beberapa kosa kata saja, itupun kebanyakan berada di tingkatan bahasa kasar. (WJK News)

siya = kamu
kawula = saya
beja = berita
titah= perintah

Posted by Unknown
No comments | 1:37 AM

West Java Kingdom

Mengenang kepergian dalang kondang Asep Sunandar Sunarya, kali ini kami akan membahas mengenai asal muasal wayang golek yang kini menjadi salah satu warisan budaya Sunda terbesar.

Kemungkinan Awal Lahirnya Wayang Golek
Kata wayang berasal dari bahasa Jawa krama ngoko yang berarti perwajahan. Apabila kita menelusuri untuk mencapai titik dimana dan kapan wayang golek lahir, hampir tidak akan kita temui suatu paparan yang utuh. Namun dari beberapa sumber referensi yang kami dapatkan, wayang golek lahir dari perkembangan wayang kulit yang sudah lebih dahulu hadir.

Sekitar tahun 1583, Sunan Kudus yang merupakan salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa diceritakan pernah membuat kurang lebih 70 buah wayang dari kayu. Jika itu merupakan awal dari sejarah kelahiran wayang, maka dapat dipastikan bentuk wayang saat itu berbeda dengan wayang golek yang kita jumpai sekarang, dimana saat itu wayang belum diberi warna-warni (hanya warna kayu saja). Wayang tersebut dipertontonkan biasanya pada siang hari dengan sumber cerita lokal atau imajinasi sendiri yang tentunya sarat dengan pesan agama Islam. Jadi, wayang golek pertama kali adalah sebagai media untuk penyebaran agama Islam.

Dengan demikian, wayang golek lahir sebenarnya bukan di Jawa Barat. Dikarenakan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur telah terlebih dahulu mengenal wayang kulit, kehadiran wayang baru ini kurang begitu berkembang, karena masyarakat disana terlanjur menggemari wayang kulit. Namun wayang golek Sunan Kudus itu menarik hati dari ulama atau sekurang-kurangnya santri Cirebon yang sedang berkunjung (atau mungkin berguru) ke wilayah Sunan Kudus. Akhirnya ide wayang golek itu dibawa ke Cirebon.

Pementasan wayang golek di tanah Priangan dimulai sejak Kesultanan Cirebon berada di tangan Panembahan Ratu (1540-1650). Yang dipertunjukan saat itu adalah wayang golek papak atau wayang cepak, disebut demikian karena memiliki bentuk kepala yang datar.

Selanjutnya ketika kekuasaan Kesultanan Cirebon diteruskan oleh Pangeran Girilaya (1650-1662), wayang cepak semakin populer dimana kisah babad dan sejarah tanah Jawa menjadi inti cerita, yang tentunya masih sarat dengan muatan agama Islam.

Lalu kapan wayang golek dengan cerita dari epos Hindustan seperti Ramayana dan Mahabarata seperti yang sekarang kita kenal itu mulai hadir? Jawabannya masih samar, meskipun kami menemukan data di tahun 1840, namun hal itu perlu ditelusuri lebih dalam lagi. Yang pasti kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata tersebut kemungkinan besar pertama kali lahir dan berkembang dalam pertunjukan wayang kulit. Semula kisah tersebut menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah banyak dalang-dalang dari kalangan orang Sunda, maka bahasa Sunda pun mulai menggantikan penggunaan bahasa Jawa.

Perkembangan selanjutnya adalah wayang golek purwa yang tidak bisa dilepaskan dari peran Wiranata Koesoemah III, seorang Dalem dari wilayah Karang Anyar. Wiranata Koesoemah III sangat menggemari wayang, namun ia menginginkan suatu pertunjukan yang lebih menarik dan memiliki nilai-nilai keSunda-an. Akhirnya ia meminta salah seorang pengrajin wayang kulit bernama Ki Darman di daerah Ujung Berung Bandung untuk membuat bentuk wayang golek yang lebih menarik dengan bentuk kepala / rupa yang benar-benar menyerupai manusia. Maka lahirlah bentuk wayang golek seperti yang kita lihat sekarang.

Wayang golek semakin populer, tidak lagi sebatas konsumsi kaum menak, tapi masyarakat biasa pun mulai menggemari wayang golek ini. Wayang golek pun semakin menyebar ke segala penjuru Jawa Barat setelah dibukanya jalan raya Daendels yang menghubungkan daerah-daerah di Jawa Barat.

Dari paparan diatas maka di tanah Priangan bermula muncul wayang-wayang klasik seperti wayang golek papak, wayang golek purwa dan wayang golek Pakuan.  Wayang Golek Papak masih dipertontonkan di daerah Cirebon, dengan kisah babad yang menggunakan bahasa Cirebon. Wayang Golek Purwa, memainkan kisah Mahabharata dan Ramayana yang diadopsi dari pementasan wayang kulit namun menggunakan campuran bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Wayang golek pakuan, kisah yang ditampilkan adalah kisah-kisah legenda Priangan seperti Sangkuriang, Mundinglaya di Kusumah, Lutung Kasarung dan lain-lain.

Lahirnya Wayang Golek Modern
Sejak 1920-an, pertunjukan wayang golek Purwa mulai diiringi dengan Sinden, nayaga dan beberapa instrumen musik Sunda. Namun perkembangan wayang golek Purwa ini kian hari kian terpinggirkan oleh kesenian lain yang lebih modern.

Maka untuk menyelamatkan kesenian wayang golek, beberapa dalang mulai melakukan pembaharuan agar wayang semakin menarik minat masyarakat. Salah satu tokoh pembaharu adalah Sulaeman Partadireja. Namun dari para pembaharu yang paling fenomenal adalah Abah Sunarya, yang memiliki padepokan wayang golek Giriharja dari Jelekong, Kabupaten Bandung. Beliau mulai berani menerapkan hal-hal baru baik dari bentuk wayang maupun cerita yang dikemas tidak kaku mengikuti pakem-pakem sebelumnya. Rintisan Abah Sunarya ini dilanjutkan oleh putra-putranya seperti Ade Kosasih Sunarya dan Asep Sunandar Sunarya. Gaya baru dari dinasti Giriharja ini semakin membuat wayang golek terlihat lebih hidup.

Ade Kosasih dan Asep Sunandar berani menciptakan tokoh-tokoh baru dengan tambahan ornamen dan efek modern, suatu hal yang mungkin dianggap tabu oleh dalang-dalang sebelumnya. Si Cepot yang bisa digerakan kepalanya secara vertikal atau Cepot yang ngibing dengan memperlihatkan kaki, Buta yang bisa meledak kepalanya, menjulurkan lidah, memuntahkan mie goreng, mengeluarkan darah, dan lain sebagainya.
Mulai tahun 1980 an, ertunjukan wayang golek kembali menjadi primadona pertunjukan panggung kesenian Jawa Barat. Tidak hanya di atas pentas, wayang golek pun mulai merambah ke media elektronik seperti televisi, kaset, vcd, dan lain sebagainya.

Tokoh Sentral Wayang Golek
Tokoh sentral adalah tokoh yang dijadikan kokojo para dalang dalam pementasannya. Pada masa penjajahan Belanda, tokoh favorit adalah Arjuna. Kemudian tokoh sentral beralih pada Gatot Kaca di masa-masa perjuangan kemerdekaan, mungkin hal ini disebabkan Gatot Kaca memiliki watak pemberani dan semangat yang diharapkan mampu menularkan sikap perlawanan terhadap kolonialisme. Pada masa sekarang, zaman dimana nilai hiburan lebih diutamakan dibandingkan dengan nilai-nilai falsafah, maka para dalang yang mencium fenomena ini mulai mengandalkan dagelan-dagelan yang tercipta dari dialog para buta, punakawan. Dari tokoh punakawan ini tentu seperti yang kita kenal melejitkan si Cepot sebagai bintang pertunjukan. (WJK news)
Posted by Unknown
No comments | 12:15 AM
Ritual Babakti, dalam budaya Sunda lama berarti mendo'akan para leluhur agar tenang di alam sana. Do'a ini dipanjatkan kepada Hyang Tunggal, sehingga diharapkan selain untuk para leluhur, ritual ini bermanfaat juga bagi orang yang berdo'a.

Pada masa silam, ritual ini menggunakan media sesajen yang harus tersedia seperti buah-buahan hasil perkebunan, kopi pahit, kopi manis, dupa, kemenyan, serumpun padi, ubi, dan kacang tanah yang masih bercangkang.

West Java Kingdom

Ritual lain adalah apa yang disebut dengan Purnamasari. Upacara ini  dilaksanakan pada saat terang bulan, maksudnya agar energi positif Bulan bisa menjalar kepada kita yang berada di Bumi. Upacara ini bermanfaat untuk kesehatan (meskipun tidak mudah untuk menangkap energi positif bulan) sehingga kekhidmatan dalam ritual ini sangat diperlukan. Konon Raja-Raja Sunda zaman dahulu rutin melaksanakan ritual ini setiap bulannya.

Kini ritual-ritual tersebut sudah tidak populer lagi, namun beberapa paguyuban Sunda masih ada yang melaksanakan ritual tadi. Ada yang benar-benar melaksanakan seluruh rangkaian ritual apa adanya seperti masa silam, ada juga yang sudah dibungkus atau disesuaikan dengan kepercayaan yang mereka anut saat ini. (WJK News)



Posted by Unknown
No comments | 9:41 PM
WEST JAVA KINGDOM
Setelah angklung yang memiliki suara merdu dan fenomenal, kini saatnya kendang yang diusulkan untuk menjadi warisan budaya Jawa Barat (Sunda). Alat musik ini sekarang sedang diteliti Dirjen HAKI untuk mendapatkan pengakuan dari Nasional.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan atau Disparbud Jawa Barat, Nunung Sobari menuturkan bahwa saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang mendaftarkan dan mengusulkan kendang ke Dirjen HAKI agar diakui sebagai salah satu warisan dari kebudayaan nasional.
Proses peresmian kendang sebagai warisan budaya nasional ini pun diharapkan tidak serumit pengakuan hak intelektual pada kujang pada tahun 2013 lalu. Apalagi saat ini mudah sekali menemui kendang di mana saja.
Saat ditemui dan dikonfirmasi mengenai hal ini, Nunung Sobari mengungkapkan harapannya, dia menuturkan bahwa proses pemberian HAKI pada kendang agar tidak susah dan bisa selesai dengan cepat. Dia mencontohkan acara-acara di televisi swasta nasional yang menggunakan kendang sebagai alat musiknya dan disukai oleh banyak orang.
Fenomena pemakaian kendang sebagai alat musik memang sudah menjamur di Indonesia. Banyak sekali acara-acara musik yang memperlihatkannya di layar kaca dan ditonton oleh semua warga di tanah air. Bahkan, acara dengan pengiring alat musik kendang ini pun menempati rating teratas dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan kendang sebagai alat musik sudah diakui oleh warga Indonesia.
Nunung Sobari menjabarkan bahwa pada tahun 2013 lalu, tepatnya bulan Oktober, pihak Dinas Pariwisata dan kebudayaan telah mendapatkan sertifikat perlindungan terhadap warisan budaya Jawa Barat. Lebih rinci, ada delapan warisan budaya Jawa Barat yang diakui oleh Kementerian Pendidikan dan kebudayaan atau yang biasa disebut Kemendikbud. Delapan warisan budaya tersebut antara lain ronggeng gunung, gotong singa, aksara kanganga, topeng Cirebon, jaipongan, silat, calung, dan kujang. Dan seiring dengan pengakuan ini, kebudayaan tersebut semakin dicintai dan disukai oleh masyarakat Indonesia, khususnya warga Bandung sendiri.
Faktor lain yang seharusnya dipertimbangkan adalah peran Jabar dalam memberikan kontribusi terhadap pengakuan UNESCO. Seperti diketahui, angklung sebagai salah satu alat musik khas Jawa Barat sudah diakui oleh UNESCO (menjadi warisan budaya tingkat dunia). (WJK News)

Posted by Unknown
No comments | 12:36 AM
WEST JAVA KINGDOM
Salah satu bagian dari pakaian adat Sunda yang tidak bisa ditinggalkan adalah iket kepala Sunda. Bagian ini menjadi ciri khas pakaian adat Sunda sehingga harus dikenakan. Yang mengenakan iket kepala adalah kaum lelaki. Saat mengenakan iket ini, pria Sunda semakin tampak gagah, tak elak iket sunda tampak sebagai mahkota bagi pria Sunda.

Iket Kepala
Iket kepala ini biasanya berbahan kain polos atau kain batik. Lebar kain sekitar 1 meter persegi. Namun ada iket yang hanya berbentuk sebagian iket dan diagonal, iket yang seperti ini diberi nama satengah iket. Batik yang digunakan iket juga tidak sembarangan, motif yang sering dipakai yakni batik kumeli, batik kangkung, batik porod eurih, batik katuncar mawur, batik kalangkang ayakan, batik kawung ece, batik giringsing, dan lain-lain.

Bentuk Iket
Bentuk iket kepala Sunda ada beberapa macam, seperti yang diulas berikut ini;

Pertama, parengkos nangka. Merupakan bentuk iket Sunda yang mudah dikenakan. Biasanya dipakai oleh kaum lelaki yang sudah lanjut karena hanya tinggal dibelitkan di kepala.

Kedua, julang ngapak. bentuk ini didesain khusus untuk orang tua.

Ketiga, talingkup. Bentuk ikat kepala ini juga mudah digunakan karena memang didesain khusus untuk orang tua.

Keempat, udeng. Inilah bentuk iket yang dikenakan untuk acara-acara resmi yang diadakan di kampung atau acara resmi lainnya. Biasanya dikenakan oleh orang tua.

Kelima, kuda ngencar. Merupakan bentuk iket kepala yang digunakan oleh para jawara muda.

Keenam, borongbong keong. Bentuk iket kepala Sunda satu ini biasanya digunakan oleh kaum muda.

Ketujuh, bungkus peuyeum. Bentuk iket ini biasanya dikenakan oleh para petani, tukang kebun, ternak, dan lain sebagainya.

Kedelapan, babalian. Sama seperti borongbong keong, bentuk iket kepala ini juga digunakan oleh anak muda.

Kesembilan, mamakasaran. Inilah bentuk iket kepala yang dipakai oleh remaja Sunda.

Kesepuluh, kuda nyicir. Dikhususkan untuk anak muda.

Kesebelas, iket raja atau satria. Iket ini biasanya dibuat dan dipakai untuk acara sandiwara, drama, dan lain sebagainya.

Kedua belas, totopong. Iket ini lebih kasar dari pada udeng, tetapi yang memakai adalah sama, yakni orang tua.

Ketiga belas, barangbang semplak. Pada zaman dahulu, barangbang semplak hanya boleh dikenakan oleh jawara saja. Tapi kini, bisa dikenakan oleh siapa pun. Kecuali orang Sunda yang masih memegang teguh tradisi Sunda.

Bentuk iket ini bisa Anda pilih untuk inspirasi iket saat Rebo Nyunda. Mari lestarikan budaya Sunda. (WJK News)
Posted by Unknown
No comments | 9:47 PM
WEST JAVA KINGDOM
Salah satu kampung yang masih asri dan mau menyuguhkan seni khas budaya sunda adalah kampung seni Malangyang yang ada di kampung Cibolerang, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Di sini, Anda tidak hanya akan melihat pemandangan alam yang hijau dan asri, tetapi juga akan dimanjakan dengan seni budaya yang dipertontonkan melalui pergelaran. Kampung ini memiliki saung-saung tradisional yang akan bisa Anda nikmati keteduhannya dan budayanya secara langsung.
Lokasi ini dipercaya sebagai lokasi terbaik untuk acara liburan keluarga. Sekalian liburan, Anda juga bisa mengenalkan budaya Sunda kepada anak-anak. Selain dia mengerti, Anda juga bisa menanamkan dalam dirinya betapa pentingnya melestarikan sebuah budaya.

Di tengah kampung ini dibuat sebuah panggung terbuka. Tidak hanya itu, panggung ini juga sudah dilengkapi dengan barisan untuk tempat duduku penonton saat menyaksikan pergelaran seni ala kampung seni Malangyang. Lokasi ini juga dilengkapi dengan panggung rumbia tanpa tembok. Sedangkan untuk menikmati keseluruhan saung yang ada di kampung tersebut, Anda perlu melewati jalan setapak yang di pinggirnya sudah diberi barisan batu templek dengan susunan yang sangat rapi. Jika hujan, Anda dan keluarga tidak perlu khawatir lagi.

Selain berwisata budaya, Anda juga bisa berwisata kuliner khas Bandung di lokasi ini. Berbagai jajanan tradisional siap Anda santap seperti rangginang, lotek, keripik singkong, dan lain-lain. Jika Anda ingin berlibur sekaligus menikmati pergelaran kebudayaan Sunda, Anda perlu meluangkan waktu berlibur hingga malam hari. hal ini karena pergelaran akan dimulai pada jam 8 malam. Dan hanya digelar di weekend saja.  jangan heran jika setiap minggunya pergelaran ini akan berubah-ubah, dari wayang golek, seni bajang, hingga kesenian Sunda modern seperti pop sunda juga ditampilkan. Hal ini merupakan cara agar pengunjung tidak bosan.

Di sini, Anda juga bisa mengenalkan permainan tradisional yang biasanya dimainkan oleh orang pada zaman dahulu, seperti egrang, karet gelang, gasing, bebedilan, dan lain-lain.

Untuk diketahui, di kampung ini terdapat banyak sekali saung yang dibangun oleh pemiliknya sendiri. Tentu dengan dana pribadi, sang pemilik mengakui bahwa pembangunan saung ini bukanlah untuk menarik wisatawan atau mendapatkan uang. Sehingga sang pemilik menutup kampung ini karena sang abah, harus menempuh studi untuk meraih gelar doktor di Yogyakarta. Kabar ini sudah didengar sejak akhir tahun lalu. (WJK News)
Posted by Unknown
No comments | 11:50 PM
Salah satu daerah yang masih melestarikan budaya Sunda adalah kampung Sindang Barang yang terletak di daerah Bogor. Kampung ini selain terlihat asri karena lokasinya yang hijau, juga kental dengan budaya karena masih mempertahankan rumah adat yang masih sangat tradisional. Kampung ini juga masih mengembangkan tradisinya secara turun temurun kepada generasi penerusnya. Hal ini baik, agar pelestarian budaya tidak putus di tengah jalan.

Kampung ini merupakan kampung tertua yang ada di Bogor. Selain 8 jenis kesenian Sunda yang dilestarikan, kampung ini memiliki peninggalan purbakala bekas kerajaan Pajajaran yang tergambar dalam bukit-bukit berundak.

Arti Sindang Barang

Sindang Barang sendiri memiliki arti yang sangat dalam dan sakral. Sindang berarti berhenti, sedangkan barang lebih mengacu pada arti tentang keduniawian atau hal-hal yang bersifat materi. Setelah digabung, arti Sindang Barang tentu menjadi sangat dalam yakni meninggalkan hal-hal yang bersifat materi atau duniawi. Maka tak heran jika Kampung Sindang barang ini menjadi lokasi yang sangat tradisional dan mengedepankan hubungan antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alamnya.

Sindang Barang sebuah Lokasi Wisata

Untuk melestarikan kesenian Sunda, lokasi ini menjadi lokasi wisata kesenian Sunda yang pas. Sejumlah kesenian Sunda yang dimiliki oleh kampung ini disuguhkan kepada para pelancong baik yang datang dari dalam maupun luar negeri. Tak hanya kesenian yang menjadi daya tarik kampung ini. Hijaunya sawah yang terhampar luas serta pemandangan alam lainnya juga menjadi daya tarik khas dari perkampungan ini.

Sebuah perkampungan yang masih menjaga alam, mempertahankan tradisi. Lebih tepatnya, lokasi yang menggambarkan kehidupan di masa lampau, tetapi lebih modern. Di lokasi ini, terdapat 27 bangunan rumah tradisional Sunda yang bisa digunakan untuk para wisatawan berteduh dan menghabiskan waktu untuk berwisata. Pasalnya, setiap rumah di Sindang Barang memiliki fungsi yang unik, berbeda antara satu dengan yang lain. Seperti berfungsi untuk lumbung padi dan yang lainnya.

Kampung Sindang Barang ini juga menjadi lokasi yang tepat untuk melepas penat dengan keasrian dan rimbunan daun yang hijau plus menikmati keramahan serta kehidupan masyarakat Sunda masa lampau. Lebih tenang, asri dan menyegarkan. (WJK News)
Posted by Unknown
No comments | 9:09 PM
WEST JAVA KINGDOM
Tidak etis rasanya jika sebagai orang Sunda kita tidak mengenal budaya Sunda juga rumah adat Sunda pada zaman dulu. Memang, keberadaan rumah minimalis, apartemen, hotel, dan bangunan modern lainnya kini telah mengikis keberadaan rumah adat yang sebenarnya lebih ramah terhadap lingkungan dan tahan terhadap bencana. Untuk menambah pengetahuan Anda mengenai rumah adat Sunda, kali ini akan dibahas mengenai rumah adat Sunda kuno yang secara umum memiliki 3 bagian dengan fungsinya yang berbeda-beda

Inilah 3 bagian rumah adat Sunda beserta fungsinya masing-masing;

Pertama, Hareup atau Depan
Bagian depan dari rumah adat sunda disebut emper. Pada zaman dulu, emper digunakan untuk menerima tamu laki-laki. Oleh suku baduy, emper atau tepas ini dikenal dengan sebutan sosoro dan sebagian menyebutnya sosompang. Khusus sosompang ini menjadi sebutan untuk rumah Jaro. Dekat dengan tepas dan posisinya sejajar, terdapat sebuah ruang yang digunakan sebagai kamar tamu.

Kedua, Bagian Tengah
Bagian tengah dari rumah ini disebut tengah imah. Di bagian ini terdapat bilik yang biasanya digunakan untuk tidur. Bilik yang digunakan untuk tidur ini disebut pangkeng atau enggon. Bilik ini terkadang disekat menggunakan dinding bilik, terkadang dibiarkan tanpa dinding. Pada rumah adat Sunda yang berukuran besar, ruang tengah juga menjadi tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Ruangannya tentu lumayan besar juga.

Ketiga, Bagian Belakang atau Tukang
Di sinilah lokasi kegiatan masak memasak diadakan. Ya, bagian belakang dari rumah adat Sunda berisi dapur. Uniknya, dapur hanya diperuntukkan untuk wanita saja. Lelaki tidak diperkenankan untuk memasuki area dapur, karena pamali. Selain dapur, di bagian belakang ini juga terdapat goah. Selain berfungsi untuk tempat memasak, bagian ini juga merupakan ruangan di mana pemilik rumah menerima tamu perempuan.

Dari ketiga bagian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa rumah adat Sunda memiliki filosofi yang sangat indah. Bagian depan adalah tempat untuk laki-laki, sedangkan bagian belakang menjadi tempat untuk perempuan.

Dalam hal pembuatan rumah, harus dibuat rangkanya terlebih dahulu. Rangka yang dalam hal ini disebut rangkay juga terbagi menjadi tiga bagian, yakni hateup atau atap, salasar atau lantai, dan suhunan atau bubungan. Biasanya, atap rumah adat Sunda terbuat dari ijuk atau daun enau namun pada perkembangannya kini, atap tersebut telah berubah wajah menjadi genting. Meski di beberapa daerah rumah adat Sunda masih menggunakan atap daun enau dan ijuk. (WJK News)
Posted by Unknown
No comments | 2:28 AM
Rumah Adat Sunda memiliki bentuk yang mirip dengan rumah tradisional di Indonesia lainnya, yaitu berbentuk rumah panggung. Bentuk rumah ini memiliki manfaat sangat banyak dalam kaitannya dalam penanggulangan bencana seperti banjir dan gempa bumi. Kali ini akan dibahas secara khusus mengenai jenis rumah adat Sunda jika ditinjau dari bentuk atap rumahnya.
Berdasarkan atap rumahnya, rumah adat Sunda dapat dibagi menjadi 6, yaitu:

1.    Rumah Adat Jolopong
Rumah jenis ini memiliki atap dengan bentuk seperti pelana dan memanjang. Bisa dibilang, atap rumah Jolopong ini sangat sederhana tanpa pernak-pernik atau lekukan yang rumit.

2.    Rumah Adat Perahu Kumureb
Sekilas bentuknya tampak seperti gunung tangkuban perahu. Ya, rumah adat perahu kumureb memang memiliki atap yang bentuknya mirip perahu terbalik seperti legenda tangkuban perahu.

3.    Rumah Adat Julang Ngapak
Rumah adat yang satu ini memiliki atap dengan bentuk seperti sayap burung yang sedang digunakan untuk terbang. Jadi, ada lekukan yang membentuk sayap dan puncak atap rumah membentuk badan burungnya.

4.    Rumah Adat Badak Heuay
Atap rumah jenis ini berbentuk seperti badak yang sedang membuka mulut. Tersiri dari 2 bagian atap, bagian kecil dan besar. Bagian besarnya terletak pada bagian belakang, sedang bagian kecil menudungi bagian depan rumah (tempat menerima tamu lelaki).

5.    Rumah Adat Tagog Anjing
Bentuknya sekilas seperti badak heuay, bedanya adalah antara atap besar dan kecil di satukan dalam satu titik di tengah, tidak memotong dan terbuka seperti rumah adat badak heuay. Bentuknya sederhana seperti anjing yang sedang duduk.

6.    Rumah Adat Capit Gunung
Bentuk atap terakhir mirip sekali dengan gunting. Bagian ujung atap saling silang (menyisakan hasil persilangan kayu di bagian atas). Sebenarnya rumah jenis ini memiliki bentuk yang sederhana, namun karena persilangan tersebut, nilai estetika dari rumah ini bertambah. Indah.
Itulah enam jenis rumah adat Sunda zaman lampau yang seharusnya dilestarikan. Beberapa rumah jenis ini masih bisa ditemukan di daerah Jawa Barat, seperti Kanekes, Garut, dan lain sebagainya. Namun, mungkin pemakaian beberapa bahannya sudah berbeda dengan rumah adat masa lalu. (WJK News)
Posted by Unknown
No comments | 11:44 PM
WEST JAVA KINGDOM
Sekilas alat musik Sunda ini sama dengan angklung. Ya, calung memang bisa dibilang merupakan saudara kembar dari angklung. Sama-sama terbuat dari bambu dan membunyikan suara-suara yang merdu.

Apa Itu Calung?
Calung dapat diartikan sebagai sebuah alat musik yang terbuat dari bambu yang dimainkan dengan cara dipukul sambil dijinjing. Pengertian lain dari calung adalah sebuah seni pertunjukan. Meski merupakan saudara kembar dari angklung, keduanya terbilang unik dalam hal cara memainkannya. Seperti diketahui, angklung dibunyikan dengan cara digoyang sedangkan calung dibunyikan dengan cara dipukul. Tangga nada yang ada pada calung ini adalah da-mi-na-ti-la.

Jenis-Jenis Calung
Calung Sunda ini terdiri atas dua jenis, yaitu;

1.    Calung Jinjing
Calung jinjing terdiri dari 4 hingga 5 buah bambu. Dimainkan dengan cara dijinjing lalu dipukul. Caranya adalah menjinjingnya dengan tangan kanan dan memukulnya dengan tangan kiri. Cara memukulnya pun tidak bisa sembarangan, ada beberapa teknik yang digunakan seperti dikemprang, dikempyung, dirangkep, dirincik, solorok, salancar, dan lain sebagainya. Pemakaian teknik ini tergantung pada pemain calungnya. Calung Jinjing ini memiliki 2 nada yakni salendro dan madenda. Nada salendro biasanya bernada pelog sedangkan madenda bernada nyorog.

2.    Calung Rantay
Berbeda dengan calung jinjing, calung rantai dimainkan dengan bersila. Calung rantai ini bisa berbentuk satu deret ada yang dua deret. Yang terbentuk dari dua deretan diberi nama induk dan anak. Calung ini dimainkan dengan dipukul menggunakan dua tangan. Biasanya diikat di bilik rumah atau di pohon-pohon.

Fungsi Calung
Fungsi calung dulunya adalah sebagai sarana dalam upacara adat atau ritual-ritual tertentu. Selain itu juga digunakan sebagai alat musik saat digelar pertunjukan. Namun, pada perkembangannya, fungsi alat musik ini berubah, yakni hanya untuk pertunjukan saja. Bahkan, kini alat musik Calung sudah digabungkan dalam pertunjukan dangdut di Jawa Barat.

Pemakaian calung dalam industri musik tanah air seperti dangdut ini menjadi salah satu bukti bahwa alat musik ini sedang dilestarikan oleh masyarakat Sunda. Beruntung Calung masih bisa dipakai sebagai alat musik dangdut, sehingga generasi muda Indonesia saat ini tahu bahwa ada alat musik lain di Sunda yang tak kalah menarik, yakni calung. Ke depannya, pelestarian alat musik ini akan semakin berkembang pesat. Semoga. (WJK News)
Posted by Unknown
No comments | 11:26 PM
WEST JAVA KINGDOM
Mempelajari budaya Sunda ternyata tak hanya cukup belajar tentang objek budayanya saja. Akan tetapi perkembangan budayanya juga patut diikuti agar bisa lestari dan tidak stagnan begitu saja. Salah satu budaya Indonesia yang telah mengantongi pengakuan dari UNESCO adalah wayang. Khusus untuk budaya Sunda, ada wayang golek yang menjadi ciri khas tanah Pasundan.
Wayang golek memang semakin terkenal di tanah air. Namun, apa jadinya jika seorang dalang wayang golek mengeluh tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah dalam hal pengembangan seni budaya?

Hal ini dialami oleh dalang muda di Jawa Barat, Apep AS Hudaya. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak peduli terhadap perkembangan budaya. Buktinya, tidak mendukung kegiatan yang dilaksanakan Pepadi atau persatuan perdalangan Indonesia Jawa Barat. Apep menambahkan bahwa selama lima tahun terakhir, tidak ada dana untuk pelaksanaan pelatihan maupun pendidikan tentang kebudayaan khususnya wayang golek. Kebetulan Apep memang ada di bagian Diklat.

Apep juga sempat membandingkan dengan provinsi tetangga, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mendapatkan perhatian dari pemerintah provinsinya. Hal ini membuat roda organisasi perdalangan menjadi berjalan baik.

Pendidikan dan pelatihan juga dilaksanakan dari senior ke junior. Hal ini semakin membuat wawasan perdalangan semakin meningkat. Berbeda dengan cara yang dilakukan di Jawa barat yang terkesan sendiri-sendiri. Perbandingan lain terlihat pada perkembangan pendidikan perdalangan yang semakin langka. Hal ini dibuktikan dengan dihilangkannya jurusan perdalangan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia atau SMKI. Hilangnya jurusan perdalangan ini akibat jurusan yang sepi peminat.

Memang diakuinya, menjadi dalang tidaklah mudah. Dalang harus memiliki wawasan yang luas dalam bidang politik, seni, budaya, hukum, dan lain sebagainya. Selain itu, seorang dalang juga harus memiliki keunikan dan dana besar agar bisa berkembang. Sejauh ini, banyak dalang yang besar lahir dari dalang senior yang besar juga. Artinya, banyak orang yang berminat menjadi dalang dan bisa terkenal sebab memiliki orang tua yang juga seorang dalang. Miris. Jika ini dibiarkan, bukan wayang golek yang akan langka, melainkan dalanglah yang akan menjadi langka.

Namun, berlainan dengan apa yang diungkapkan Apep mengenai perhatian Pemprov Jabar pada wayang golek, ketua Pepadi Jabar, Tjatja Kuswara justru mengungkapkan bahwa Pemprov Jabar sangat perhatian dalam hal penggelontoran dana. Buktinya, saat ia menjabat pada tahun 2008 hingga 2013, sebanyak 100 juta rupiah telah dipercayakan pada Pepadi untuk dikelola sebaik-baiknya.

Terlepas dari perbedaan persepsi ini, semoga tujuan pelestarian kebudayaan ini dapat tercapai tanpa harus memecah belah pihak mana pun. Pelestarian budaya sejatinya bisa dicapai bersama-sama. (WJK News)
Posted by Unknown
2 comments | 10:23 PM
WEST JAVA KINGDOM
Suku Sunda dikenal sebagai suku yang berada di Jawa Barat, meskipun suku Sunda kini telah tersebar di seluruh negeri. Ada yang merantau, bekerja di daerah, atau memang menetap di daerah lain. Suku Sunda sudah menjadi bagian dari Negara Indonesia yang tidak bisa hilang. Apalagi, menilik sejarah Indonesia yang panjang, suku Sunda mempunyai andil yang besar di sana.

Asal-Usul Suku Sunda

Konon, kata Sunda berasal dari bahasa Sansekerta, yakni Sund atau Suddha, dua kata ini memiliki arti bersinar, terang, atau putih. Istilah Bali, Sunda yang berarti murni, bersih, dan suci juga menjadi penguat arti dari kata Sunda.  Pemakaian kata ini untuk suku, dalam hal ini suku Sunda, dimulai pada masa Purnawarman yakni pada tahun 397. Kala itu, sebutan Sunda ia sematkan pada kerajaan Tarumanegara. Pemakaian kata ini berlanjut hingga tahun 670, Kerajaan Tarumanegara berubah menjadi Kerajaan Sunda, yang kemudian seiring perkembangannya terpecah menjadi kerajaan Galuh dan kerajaan Sunda.

Istilah suku Sunda memiliki arti orang yang tinggal dan berasal dari kawasan Jawa Barat atau tanah Pasundan atau yang biasa disebut parahiangan.     Secara kultur, tanah Pasundan ini berbatasan dengan Sungai Cindaduy dan Sungai Cilosari. Yang keduanya merupakan perbatasan bahasa bagi Bahasa Sunda (bahasa yang dipergunakan oleh Suku Sunda). Namun demikian, banyak sekali suku Sunda yang telah menyebar baik di daerah terdekat dengan jawa barat, maupun yang terjauh sekali pun.

Bahasa Daerah Suku Sunda
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa suku Sunda menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah. Mereka menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dengan kerabat, tetangga, saudara, teman, dan lainnya. Intinya, bahasa Sundalah yang menjadi bahasa keseharian. Jika ditelaah lebih jauh, penggunaan bahasa daerah Sunda ini berbeda antara suku Sunda yang tinggal di Jawa Barat dan di luar Jawa Barat. Hal ini karena percampuran budaya dan penyerapan budaya baru oleh Suku Sunda yang tinggal di lingkungan baru pun dengan budaya baru.

Orang yang tinggal di Cirebon misalnya, lokasi ini merupakan perbatasan daerah Jawa Tengah dengan Jawa Barat, di mana banyak Suku Sunda yang tinggal di sana, sehingga menimbulkan bentuk bahasa Sunda dengan dialek baru.

Pemakaian bahasa Sunda kini biasanya lebih ditekankan pada saat berbicara dengan orang terdekat agar tidak kaku dan lebih cair. Selain itu, bahasa juga bisa dikatakan sebagai sebuah penghormatan. Namun demikian, kehadiran Rebo Nyunda bisa menjadi salah satu cara masyarakat Sunda untuk kembali berdialek asli Suku Sunda. (WJK News)
Posted by Unknown
No comments | 12:34 AM
WESTJAVA KINGDOM
Salah satu hal yang bisa membuktikan keunikan sebuah Negara adalah kebudayaannya, dan Budaya Sunda adalah salah satu akar dari Budaya Indonesia yang menyumbang keunikan untuk Negara Indonesia ini. Budaya Jawa Barat yang unik ini bisa dilihat dari kampung adat yang hingga kini masih dilestarikan oleh beberapa tetua adat. Berikut ulasan 2 kampung adat di Jawa Barat yang dikeramatkan;

1.    Kampung Adat Cikondang
Terletak di desa Lamajang, kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, kampung ini hanya berjarak 38 km dari pusat kota Bandung. Dari cerita leluhur dan yang telah beredar, Kampung Cikondang adalah mata air yang ditumbuhi pohon besar atau Kondang. Maka dari itu, kampung adat ini dinamakan Cikondang, yang merupakan gabungan dari mata air dan pohon besar.
Hingga kini, ada 5 kuncen yang merawat dan menjaga kampung Cikondang. Kelima kuncen ini tinggal dan ditugasi untuk menjaga bumi adat, yakni sebuah rumah dengan arsitektur yang masih tradisional. Masyarakat di kampung ini masih percaya dengan roh-roh nenek moyang meskipun sebagian besar sudah beragama islam. Tak heran, masyarakat di sini erat kaitannya dengan ritual-ritual keagamaan. Nah, hal unik lainnya adalah dijaganya pohon di Cikondang. Menjaga berarti tidak menebangnya hingga ada wangsit untuk ditebang.

2.    Kampung Adat Arjasari
Termasuk dalam kawasan Kabupaten Bandung, kampung adat ini terletak di desa Batu Karut. Di salah satu kampung yang ada di kecamatan Arjosari ini ada sebuah rumah kecil Sunda yang disebut Bumi Alit. Di dalam bumi alit ini, tersimpan berbagai peninggalan sejarah berupa keris, kujang, dan benda pusaka lainnya. Pusaka-pusaka ini merupakan peninggalan dari Embah Manggungdikusumah. Benda-benda pusaka ini sangat dikeramatkan dan disucikan oleh masyarakat Kampung Arjasari. Ada juga sebuah gamelan yang dikeluarkan/digunakan pada saat Maulid Nabi saja, yaitu Gamelan Renteng milik Embah Bandong. Dulunya, bumi alit adalah tempat untuk berkumpul dan bermusyawarah para leluhur. Bumi alit ini terletak di bawah pohon yang sangat rindang.

Menurut kepercayaan, orang-orang yang memiliki mata batin bisa melihat sejarah bumi alit dengan berdiam diri di sana, namun tak jarang yang datang ke sana hanya untuk mendapatkan bisikan gaib dan ilafah saja. Suasana akan sangat ramai ketika Maulid Nabi, karena pada saat ini semua warga berkumpul untuk menyucikan pusaka-pusaka di dalam Bumi Alit.

Belajar dari 2 Kampung Adat di atas, kerukunan dan kekompakan warga serta prinsip andhap ashor serta tunduk patuh pada leluhur yang kini sudah mulai luruh. (WJK News)

Posted by Unknown
No comments | 9:54 PM
WEST JAVA KINGDOM
Tanah yang subur dan luas dimanfaatkan oleh masyarakat Sunda Kuno untuk bertani. Ya, mata pencaharian mereka sejak dulu adalah bertani. Namun, cara bertani mereka tidak sama dengan cara bertani yang dilakukan oleh para petani masa kini. Pasalnya, masih banyak tanah baru yang belum pernah dan harus dibuka lahannya dulu baru bisa ditanami berbagai macam tanaman.



Cara Menggarap Tanah
Ngahuma atau berladang, dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Sunda kuno. Penggarapan tanah selalu berpindah dari satu tanah ke tanah lainnya. Pada awal masa tanam, mereka harus membuka lahan baru terlebih dahulu. Saat sudah berhasil menanam tanaman di lahan tersebut hingga akhirnya panen, tanah tersebut ditinggalkan begitu saja dan berpindah untuk membuka lahan baru di tanah lain. Sementara tanah yang lama akan ditanami lagi jika sudah kembali berhumus.

Prinsip Kejujuran tentang Aturan Pemilik Tanah
Sebuah peraturan mutlak yang harus dipatuhi oleh seluruh penggarap tanah adalah bahwa kepemilikan tanah dipegang oleh orang yang pertama kali membuka lahan dan menanam tanaman di tanah tersebut. Peraturan ini juga mengharuskan pengguna tanah selanjutnya untuk meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik tanah atau penggarap tanah pertama kali. Uniknya, meskipun belum dibekali dengan tetek bengek dan syarat-syarat administratif, Orang Sunda kuno menaati peraturan ini dan melakukannya dengan jujur. Inilah yang harus dicontoh oleh masyarakat jaman modern.

Bercocok Tanam ala Sunda Kanekes
Khusus untuk masyarakat Sunda Kanekes, bertani di sawah merupakan hal yang tabu. Mereka lebih memilih untuk bertani padi di ladang, menanam tanaman buah, berburu di hutan dan mencari ikan serta menyadap air kawung. Orang Sunda Kanekes juga memberikan pelajaran tentang ungkapan syukur atas tanah yang dianugerahkan kepada mereka. Bagi mereka, tanah adalah titipan Tuhan. Mereka hanyalah orang-orang yang diberi kepercayaan untuk mengolah, memelihara, dan memanfaatkannya dengan baik dan bijaksana. Bukan mengeksploitasi dengan serakah atau bahkan merusaknya.

Kecukupan adalah batasan yang mereka terapkan untuk hasil tani mereka. Bagi mereka, yang terpenting adalah kebutuhan makan tercukupi sedangkan alam yang mereka manfaatkan harus tetap lestari dan bisa diwariskan kepada generasi penerusnya. Mereka meyakini bahwa bumi telah cukup menyediakan segala kebutuhan masyarakat, selanjutnya masyarakat tidak menggunakannya secara berlebihan. (WJK News)
Posted by Unknown
No comments | 9:20 PM
WEST JAVA KINGDOM
Dongeng adalah sebuah kisah yang diangkat dari kisah nyata atau pun fiktif menjadi suatu alur perjalanan hidup yang mengandung pesan moral dan cara dalam memaknai hidup. Dongeng juga mengajari manusia bagaimana berinteraksi dan bersosialisasi dengan makhluk lainnya. Dongeng bisa diartikan sebagai sebuah karya imajinatif yang fenomenal dan diturunkan secara turun temurun. Layaknya dongeng dari luar negeri atau daerah lain di Indonesia, Sunda juga memiliki dongengnya sendiri. Dongeng Sunda ini memiliki ciri khas yaitu disampaikan menggunakan bahasa Sunda sehingga dinamakan dongeng basa Sunda.
Salah satu dongeng basa Sunda yang fenomenal adalah si Kabayan. Dongeng tentang si Kabayan hampir sama dengan dongeng Abu Nawas. Si Kabayan dan Abu nawas sama-sama digambarkan sebagai seorang tokoh yang memiliki kecerdasan otak dan kebaikan hati namun kurang beruntung dalam penampilan fisik. Saking terkenalnya dongeng tentang si Kabayan ini, tak hanya Urang Sunda saja yang tahu, dongeng ini sudah sampai di telinga orang di seluruh Indonesia. Kemasyhuran dongeng si Kabayan tak lepas dari peran media yang mengeksposnya secara gamblang. Selain si Kabayan yang merupakan dongeng lelucon, Sunda sebenarnya juga memiliki dongeng basa Sunda lainnya. Di antaranya;
•    Dongeng fabel atau dongeng binatang, merupakan dongeng yang diperankan oleh tokoh binatang, seperti Sakadang Kuya Jeung Sakadang Monyet.
•    Dongeng biasa, merupakan dongeng yang diperankan oleh tokoh manusia namun tidak humoris, seperti Situ Bagendit.
Setiap dongeng basa Sunda memiliki tujuannya masing-masing, tujuan ini berupa pesan moral yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Nah, pesan ini pun disampaikan secara langsung dan tidak langsung. Berangkat dari pesan moral tersebut, penting kiranya untuk menyebarkan dongeng-dongeng basa Sunda. Hal ini bertujuan untuk mengajari cara hidup dan berinteraksi secara lebih rileks dan tidak kaku kepada generasi muda. Melalui sebuah dongeng, pesan moral menjadi lebih mudah untuk disampaikan. Dan berkaca dari kesuksesan dongeng si Kabayan untuk merebut hati orang Indonesia melalui media, bukan mustahil jika dongeng basa Sunda lain juga akan terkenal seperti si Kabayan. (WJK News)
Posted by Unknown
1 comment | 1:23 AM
Salah satu pembahasan tentang budaya Sunda yang hingga kini masih bisa dirasakan oleh masyarakat Sunda adalah upacara adat Sunda. Upacara adat Sunda ini beraneka macam, ada upacara adat religi, upacara adat untuk pertanian, dan lain-lain. Nah, pembahasan kali ini akan lebih dikhususkan pada topik tentang upacara adat untuk religi.

Berikut adalah upacara adat religi yang ada di Jawa Barat;

WEST JAVA KINGDOMNgalungsur Pusaka 
Merupakan upacara penyucian benda-benda pusaka. Upacara ini dilakukan oleh seorang juru kunci
atau kuncen untuk membuktikan bahwa mereka masih melestarikan tradisi nenek moyang sekaligus memberitahukan pada masyarakat tentang keberadaan pusaka peninggalan Sunan Rochmat Suci. Upacara ini biasanya dilakukan di Garut.




 


WEST JAVA KINGDOMNgunjung atau Munjung
Ngunjung dalam bahasa Indonesia berarti kunjung atau berkunjung. Upacara ini memiliki arti mengunjungi makam leluhur sebagai ungkapan rasa syukur warga. Upacara ini biasanya dilakukan di daerah Indramayu dan Cirebon. Tujuannya adalah untuk melestarikan budaya Sunda sekaligus meminta keselamatan. Biasanya dilakukan pada malam bulan Syuro dan atau Mulud atau Maulud.

 
WEST JAVA KINGDOM
Ngirab atau Rebo Wekasan
Orang Cirebonlah yang biasanya melakukan upacara adat satu ini. Kegiatan yang dilakukan pada saat rebo wekasan adalah dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di hari Rabu pada Minggu terakhir di bulan Syafar. Hari Rabu diambil karena dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk menghilangkan kesialan. Acara yang dilakukan setelah upacara adat ini adalah lomba mendayung.




WEST JAVA KINGDOM 
Nyalawean
Upacara ini bertujuan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Alun-alun Desa Trusmi di Cirebon adalah lokasi digelarnya upacara. Upacara ini dilaksanakan selama 5 hari berturut-turut, yaitu 12 hari setelah peringatan Maulid Nabi oleh Keraton Cirebon. Pada saat yang sama, dilakukan ziarah ke makan leluhur. Tujuannya, untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan.

 


WEST JAVA KINGDOMBubur Syura
Upacara adat ini bertujuan untuk mendatangkan kesejahteraan dan ketenteraman. Digelar pada tanggal 10 Muharam di Cirebon. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, upacara ini ditujukan untuk memperingati peristiwa Nabi Nuh, tetapi ada juga yang menghubungkannya dengan Dewi Kesuburan.



Itulah keberagaman dan kepercayaan yang tertanam pada masyarakat Sunda. Keberagaman adat ini tentunya semakin memperkaya budaya Sunda. (WJK News)
Posted by Unknown
2 comments | 11:05 PM
WEST JAVA KINGDOM
Penandaan waktu siang dan malam ternyata sudah dilakukan oleh masyarakat Sunda pada zaman lampau. Bukan penandaan jam menggunakan jam tangan, jam weker, atau jam tangan melainkan menggunakan penandaan malam dan siang mereka sendiri. Nenek moyang Urang Sunda ternyata sudah terbiasa dengan ilmu astronomi untuk menandai waktu. Urang Sunda juga memanfaatkan dengan baik tanda dari alam untuk menamai waktu mereka. Dalam hal ini, nenek moyang menggabungkan antara ilmu astronomi dan geologi.
Urang Sunda membagi waktu dengan berpatokan pada dua hal yaitu alam (dari yang didengar dan dirasakan) dan matahari (dari pergerakannya).  Berikut adalah beberapa waktu yang terbilang penting saat masa lampau.
Waktu untuk menandai waktu shalat

1.    Balebat
Waktu ini menunjukkan waktu subuh, di mana urang Sunda kuno melihatnya dari fajar terbit dan kokok ayam yang bersahut-sahutan.

2.    Manceran
Waktu ini ditandai dari pergerakan matahari. Saat Manceran berarti matahari sudah berada di ubun-ubun, yaitu saatnya untuk menunaikan salat dhuhur.

3.    Pananpoe Satangtung
Penamaan ini juga diambil dari pergerakan matahari dengan dikombinasikan dengan bayangan manusia. Urang Sunda kuno tahu bahwa jika panjang bayangan sudah sama dengan benda aslinya, maka sudah masuk waktu salat Ashar.

4.    Erang-Erang
Menandakan waktu maghrib  dan Urang Sunda melihatnya dari pergerakan matahari yang sudah tenggelam ditambah dengan mega berwarna merah.

5.    Sareureuh Gaang
Adalah saat di mana hewan malam seperti katak di sawah dan jangkrik mulai berkicau. Saat ini adalah waktu untuk menunaikan salat Isya’. Jika dikonversi dengan waktu sekarang sekitar pukul 7 malam.

Menandai kesehatan
Urang pada zaman dulu juga mengetahui waktu terbaik untuk menghirup udara pagi yang bersih dan menyehatkan. Adalah Meletek atau Murag Ciibun yang dilihat berdasarkan matahari yang mulai naik dibarengi dengan embun yang berjatuhan.

Waktu untuk Istirahat
Saat orang semua tertidur pulas (malam hari), Urang Sunda menyebutnya Tumorek. Istirahat siang mereka adalah saat Pecat Sawed, yaitu melepas garu dari kerbau, memberi waktu sang kerbau untuk beristirahat dari pekerjaannya.

Jika dilihat secara keseluruhan dan urut, penandaan waktu siang dan malam menurut orang Urang Sunda kuno adalah sebagai berikut; Wanci Tumorek, Wanci Janari Leutik, Wanci Janari Gede, Wanci Disada Rorongkeng, Wanci Haliwar, Balebat, Carangcang Tihang, Murag Ciibun, Haneut Moyan, Rumangsang, Pecat Sawed, Manceran, Lingsir Ngulon, Panonpoe Satungtung, Tunggang Gunung, Sariak Layung, Erang-Erang, Sareupna, Sareureuh Gaang, Sareureuh Budak, Sareureuh Kolot, Tengah Peuting (tengah malam). Jadi, total ada 22 waktu yang ditandai. (WJK News)

Posted by Unknown
No comments | 10:32 PM
WEST JAVA KINGDOM
Sama seperti daerah lainnya yang mempercayai ramalan hari lahir, urang Sunda kuno juga mempercayai ramalan ini. Hingga kini pun masih ada yang mempercayai ramalan tersebut, meski ada juga yang menganggap hal tersebut hanyalah mitos. Terlepas dari dua pendapat yang berkebalikan tersebut, berikut adalah ramalan hari lahir dalam mitologi Sunda kuno yang dijabarkan sesuai dengan harinya;



Ramalan Lahir Hari Senin
Hari lahir senin dilambangkan dengan bunga yang memiliki sifat dasar indah. Maka dari itu, orang yang lahir di hari ini dipercaya memiliki wajah yang ganteng (jika lelaki) atau cantik (jika perempuan). Selain memiliki wajah yang rupawan, orang yang lahir di hari ini juga memiliki sifat yang humoris dan selalu ceria. Dengan aura yang begitu kuat, pribadi ini mampu memikat orang yang ada di sekitarnya.

Ramalan Lahir Hari Selasa
Dilambangkan dengan api, artinya kuat, hidup dan kharismatik. Orang yang lahir di hari ini biasanya sangat mudah disegani orang. Cocok sekali jika menjadi seorang pemimpin atau berkarir di bidang politik. Jika yang lahir perempuan, maka dia akan menjadi pribadi yang anggun dan elegan. Sebaliknya, jika yang lahir adalah lelaki maka akan memiliki tubuh yang tegap, gagah, dan tinggi besar.

Ramalan Lahir Hari Rabu
Daun adalah lambangnya. Orang yang lahir di hari Rabu menurut mitologi Sunda kuno memiliki empati yang tinggi dan sangat mudah jatuh cinta. Rasa empati yang tinggi membuatnya cocok untuk bekerja sebagai guru atau dokter.

Ramalan Lahir Hari Kamis

Kamis berlambang angin. Adalah orang-orang yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Karier yang cocok untuk si pekerja keras ini adalah wiraswasta, nelayan, dan atau pekerjaan yang membutuhkan kerja otot.

Ramalan Lahir Hari Jumat

Lahir hari Jumat menurut mitologi Sunda kuno berarti air. Tenang dan dingin adalah dua sifat dasar yang dimiliki oleh orang yang lahir di hari Jumat. Menjadi penulis, sastrawan, seniman, dan karier yang membutuhkan ketenangan dan kebijaksanaan adalah karier yang cocok untuk si air.

Ramalan Lahir Hari Sabtu
Berarti bumi. Diam namun memiliki pengetahuan yang luas adalah ciri orang ini. Pemberani, ulet, dan mampu bangkit dari keterpurukan dengan cepat.

Ramalan Lahir Hari Minggu
Memiliki lambang langit. Memiliki sikap yang kuat, jarang bersedih dan selalu melihat hal positif dari semua hal.
Terlepas dari nilai kebenaran dari ramalan-ramalan tersebut. Itulah yang menjadi kepercayaan di masyarakat Sunda pada masa lampau. Semoga semakin bisa menambah pengetahuan tentang budaya Sunda. (WJK News)
Posted by Unknown
No comments | 10:10 PM
WEST JAVA KINGDOM
Budaya Sunda merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Negeri Indonesia. Sebagai salah satu akar budaya nasional, budaya Sunda sebenarnya lahir karena tradisi yang dianut dan dikembangkan oleh suku Sunda yang kebanyakan tinggal di provinsi Jawa Barat. Oleh karena itu, banyak sekali yang mengidentikkan budaya Sunda dengan budaya Jawa Barat.

Karakteristik kuat dari budaya Sunda terletak pada sopan santun dan keramah tamahan suku Sunda. Maka tak heran, masyarakat Jawa Barat terkenal murah senyum, ramah, lemah lembut, sopan dan menghargai orang yang lebih tua. Kesopanan dan kelemahlembutan Urang Sunda bisa dilihat dari bahasa Sunda dan cara mengucapkan bahasa tersebut, selain tersusun dengan sopan, cara mengucapkannya juga terbilang lembut. Sehingga membuat orang yang mendengarnya tidak berani untuk marah. Di bahasa Sunda, juga terdapat perbedaan penggunaan bahasa Sunda untuk usia-usia tertentu. Bagaimana caranya berbicara dengan orang sebaya dan orang yang lebih tua atau muda, semuanya ada aturannya.

Cageur, Bageur, Singer dan Pinter juga merupakan salah satu karakteristik budaya Sunda yang sangat terkenal. Karakter ini menunjukkan Urang Sunda yang bersatu mencapai keutamaan dan tujuan hidup. Watak kuat ini tentunya akan sangat baik jika benar-benar dimiliki oleh Urang Sunda. Sebuah tekad yang kuat untuk mencapai tujuan.

Kehidupan religius di Budaya Sunda juga terbilang sangat rukun. Hal ini merupakan karakteristik dari Urang Sunda yang memang memegang teguh toleransi. Budaya Sunda mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain karena mereka percaya bahwa semua agama pada dasarnya mengajarkan untuk rukun dan damai. Meskipun ajaran agama secara khusus memiliki perbedaan dalam hal tasawuf. Hingga ada satu karakteristik unik dari budaya Sunda yaitu silih asih silih asah silih asuh. Arti dari kalimat tersebut adalah untuk saling mengasihi satu sama lain, lalu mempertajam diri, dan saling melindungi dan tolong menolong.

Lebih jauh, budaya Sunda mengajarkan banyak hal pada masyarakatnya. Termasuk kesopanan, rendah hati, kekompakan, gotongroyong, kerja sama, saling menyayangi, dan lain sebagainya. Hal ini bisa dilihat pada bagian budaya Sunda seperti tarian atau saat upacara adat tertentu. Upacara adat yang masih dilaksanakan bersama-sama untuk membuktikan budaya Sunda yang lestari sekaligus mengingatkan pada semua orang akan nilai-nilai budaya Sunda yang arif. (WJK News)



kembali ke atas
Bandung Cyber City
Persib History
Republik Design